Esti dan Gamar, sepasang suami
istri yang baru saja setahun menikah dan pindah dari jogja ke sidoarjo. Esti
sedang mengandung anaknya yang berumur 3 bulan. Pada malam harinya, karena dia
baru di daerah itu, dia mengajak
Gamar untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung yang dia tinggali.
Mereka berbincang-bincang
sepanjang perjalanan, hingga langkah kaki mereka dihentikan oleh sebuah
keranjang kecil yang terbalik dan ada lampu kuning di atasnya. Mereka bingung
dan bertanya-tanya tentang isi dari keranjang terbalik itu. Tak lama kemudian
ada ibi-ibu penduduk kampung yang kebetulan lewat. Gamar dan Esti menyapa orang
tersebut dan bersilahturahmi dengan dia karena mereka tergolong baru disini.
Terbesit dipikiran Gamar untuk menanyakan isi keranjang itu kepada ibu-ibu
tadi, “bu maaf, itu yang ada dalam keranjang isinya apa ya? Kok waktu saya
lihat gak ada apa-apa”
tanya gamar, ibu tadi dengan tersenyum menjawab”oo, itu? itu isinya ari-ari
bayi dari rumah itu nak, tapi ari-arinya dipendam didalam tanah”. Gamar dan Esti
malah semakin bingung, “lho bu, terus apa fungsi dari lampu itu?” tanya esti
sambil menunjuk lampu yang ada didalam keranjang. “itu katanya klo ari-arinya
tidak terkena cahaya, nanti anaknya bakal hitam kulitnya, terus dia susah untuk
melihat”,”makanya anak-anak kampung sini putih-putih cakep-cakep kan? hehehe”
jawab ibu tadi. Gamar yang dulunya orang kota tidak percaya dengan hal
tersebut, karena menurutnya itu tidak masuk akal, “Masak sih buk bisa kayak
gitu? Apa hubunganya emang ari ari sama bayi? Ibu ini ada-ada saja” kata Gamar
dengan sedikit candaan. Ibu tadi tersenyum dan menjawab ”ya terserah masnya percaya apa tidak, tapi
hati-hati aja ya mas, awas klo kejadian.”.”saya pulang dulu ya mas, sudah malam
soalnya” tambahan ibu tadi. “iya bu hati-hati.”jawab gamar.
Mereka melanjutkan perjalanan sampai pulang
kerumah. Pada malam hari mereka berbincang-bincang tentang hal tersebut. ”mas,
emangnya bener ya bisa kayak gitu?” tanya esti kepada suaminya. ”ya gak lah
dek, itu Cuma tahayul, g usah dipercaya” jawab suaminya. “tapi mas. . .” “udah
percaya aja sama mas ini.” “iya deh mas” jawab esti dengan senyum yang
ragu-ragu.
Beberapa bulan berlalu, akhirnya anak yang
mereka tunggu-tunggu lahir. Perempuan kecil itu berkulit kuning lasat, berwajah
manis kas jogja, dan matanya masih tertutup. Saat sampai di rumah, mereka
mengubur ari-ari itu tanpa memberi lampu penerangan. “Kok gak dikasih lampu sih
mas?” “gak usah dek, buat apa? Ngabisini listrik aja.”. Esti hanya diam
menanggapi pendapat Gamar.
11 hari berlalu, anak mereka masih saja menutup
matanya. Harusnya mata itu sudah mampu melihat saat umur 9 hari. Mereka bingung
sekali kenapa hal ini bisa terjadi. Mereka membawa anak mereka kedokter pada
hari itu, tetapi dokter menolak untuk melakukan pemeriksaan karena umur bayi
masih terlalu dini. Saat mereka pulang dari rumah sakit, mereka bertemu lagi
dengan ibu-ibu yang waktu itu. Saat berpapasan ibu itu menyapa mereka”nak,
habis dari mana?” “dari rumah sakit bu, abis periksa dedek bayi”. “lho bayinya
kenapa?”, ”anu bu, matanya masih tertutup, kan seharusnya umur 9 dia sudah bisa
meliat.” Sahut Esti. “oalah, kalian ari-arinya gak dikasih lampu ya nak?” “lho
kok tau bu?”sahut Gamar dengan cepat. Ibu itu tersenyum dan berkata ”soba
kalian kasih lampu, kasian lho bayinya”. mereka hening sejenak “iya bu, nanti
saya pasang lampu”. “ya sudah saya pergi dulu ya” ibu tadi tersenyum dan
berjalan menggilkan mereka. “kan, mas sih dibilangin gak percaya,” “iya-iya
dek, nanti mas pasang lampunya”
Pada sore harinya gamar memasang lampu di atas
gundukan pasir tempat ari-ariitu di kubur. “udah aku pasang dek lampunya” “iya
mas, semoga anak kita bisa membuka matanya”. Keesokan harinya doa mereka
terkabul. Bayi tersebut menangis dan perlahan-lahan membuka matanya yang
berlinang air mata. “mas Alhamdulillah, anak kita sudah bisa melihat” “wah iya
dek. Alhamdulillah, maaf ya dek dulu aku gak percaya sama kamu”. Mereka senang
sekali melihat anak mereka sudah kembali normal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar